Powered By Blogger

succes men

succes men
ngasi sambutan nie

Kamis, 23 Februari 2012

kedelai


Mencangkok adalah menguliti hingga bersih dan menghilangkan kambium pada cabang atau ranting sepanjang 5-10 cm. Tumbuhan dikotil yang dicangkok akan memiliki akar serabut, bukan akar tunggang. Tumbuhan hasil cangkokan akan lebih cepat berbuah dibandingkan tumbuhan yang ditanam dari biji dan memiliki sifat yang sama dengan induknya. Akan tetapi, tumbuhan hasil cangkokan mudah roboh, karena sistem perakarannya adalah serabut, dan umurnya lebih pendek dibandingkan tumbuhan yang ditanam dari biji (Anonim, 2009).
Tujuan pencangkokan adalah untuk mendapatkan anakan/bibit untuk pembangunan bank klon, kebun benih klon, kebun persilangan, karena dengan teknik ini bibit yang dihasilkan bersifat dewasa sehingga lebih cepat berbunga/berbuah. Pencangkokan dilakukan pada pohon-pohon plus yang telah dipilih di kebun benih. Penggunaan teknik mencangkok dilakukan dalam rangka penyediaan materi untuk bank klon, kebun persilangan dan kebun benih klon (Kartiko, 2000).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan pencangkokan antara lain:
a.       Pencangkokan sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga akan membantu dalam menjaga kelembaban media sampai berakar.
b.      Pengambilan cangkok dilakukan setelah cangkok berumur 2 - 3 bulan. Pemotongan cangkok menggunakan gergaji kemudian diturunkan secara hati-hati. Cangkok yang terlalu panjang dipotong sebagian dan daunnya dikurangi untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
c.       Cangkok yang telah dipisahkan dari pohon induknya segera ditanam (aklimatisasi) pada media campuran tanah dengan kompos/pupuk kandang (3:1). Kegiatan ini dilakukan di persemaian yang diberi naungan dengan intensitas cahaya lebih dari 50%. Pemeliharaan cangkok di persemaian dilakukan sampai bibit siap ditanam di lapangan. Biasanya setelah 3 bulan cangkok telah memiliki perakaran yanag kompak dan siap dipindahkan ke lapangan.
d.      Pembuatan cangkok pada satu pohon tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak, karena akan mengganggu atau merusak pohon tersebut (Hamdan, 2007).
Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya, tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji (Pudjiono, 1996).
Pembungkus media cangkok antara lain ijuk, sabut kelapa, pot plastik, potongan botol bekas kemasan air mineral, gelas bekas kemasan air mineral atau tabung bambu. Namun, pembungkus yang terbaik adalah plastik bening karena dapat menahan penguapan air di dalam media sehingga kelembabannya tetap tinggi. Keadaan ini membuat akar semakin cepat tumbuh. Selain itu, dengan menggunakan plastik bening, pertumbuhan akar juga gampang dikontrol setiap saat (Redaksi Agromedia, 2007).
Semua percabangan pohon induk dapat dicangkok, asalkan rajin mengeluarkan buah. Namun untuk efisiensi, cukup cabang dan ranting berukuran kecil yang dicangkok agar dari satu pohon induk dapat diperoleh belasan atau puluhan bibit cangkokan. Selain itu, bentuk tajuk pohon induk tetap terjaga jika cabang atau ranting kecil saja yang dicangkok. Pilih cabang atau ranting yang memiliki panjang 20-30 cm. sosoknya tegap, mulus, dan sehat dengan warna kulit coklat muda atau hijau kecoklatan tergantung pada jenis tanamannnya. Perlu diperhatikan, jangan mencangkok cabang yang berwarna kehitaman dan berkerak karena lambat menumbuhkan akar. Selain itu, umur cabang yang dicangkok tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda karena cabang seperti ini hanya memiliki sedikit persediaan makanan sehingga menghambat tumbuhnya akar (Redaksi Agromedia, 2007).

Layerage (mencangkok)

Layerage meupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan, yang dapat pula terjadi secara alamiah. Bagian tepi atau ujung batang yang terkulai cenderung berakar bila berentuhan dengan tanah, karena bagian vegetatif ini masih berhubungan dan mendapatkan makanan dan induknya. Pembentukan akar pada layerage dapat dipermudah dengan perlakuan seperti pelukaan, pengikatan, etiolasi, dan penyalaharahan dari batang (disorientation), yang mempengaruhi gerakan dan penumpukan auksin serta karbohidrat pada bagian batang tersebut.
Pembiakan vegetatif tanaman dengan layerage atau dapat juga disebut bumbun ini dapat dibedakan menjadi dua macam cara:
  1. Layerage dalam tanah (merunduk).
  2. Layerage di atas tanah.
Layerage di atas tanah disebut juga air layerage, pot layerage, chinese layerage, marcotted, atau menurut istilah umum di Indonesia disebut dengan cangkokan. Pencangkokan tanaman dilakukan/digunakan untuk melakukan pembiakan dengan syarat:
  1. Tidak dapat dibiakkan dengan cara layerage lain.
  2. Mempunyai batang/cabang yan berdiameter besar dan tinggi, sehingga tidak mudah dilengkungkan.
  3. Mempunyai batang-batang masak yang bertunas laten pada atau dekat dasar, tetapi tidak bersedia melakukan regenerasi bila dipakai layerage lain.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan pencangkokan tanaman adalah:
1.    Waktu mencangkok.
Wakktu terbaik melakukan pencangkokan pada musim hujan, karena tidak perlu melakukan penyiraman berulang-ulang, selain itu cangkokan cepat berhasilnya. Pencangkokan dapat pula dilakukan pada musim kemarau, asal dilakukan penyiraman 1-2 kali sehari, akan tetapi cangkokan yang dibuat dalam musim kemarau sering kali berakar lebih cepat.
2.    Pemilihan batang cangkokan.
Batang cangkokan sebaiknya jangan diambil dari bahan induk yang terlalu tua, sebab biasanya dahan pohon induk kurang baik untuk dicangkok dan jangan diambil dari pohon yang terlalu muda sebab belum diketahui sifat-sifatnya.
3.    Pemeliharaan batang cangkokan.
Pembiakan dengan cangkokan harus dijaga kelembabannya sepanjang waktu sampai dengan sesaat akan ditanam.
            Dalam proses pencangkokan hendaknya lapisan kambium batang dihilangkan. Kambium ini berperan besar dalam menbentuk pembuluh-pembuluh tapis (ploem) sekunder ke arah sebelah luar dan membentuk pembuluh-pembuluh kayu (xilem) sekunder ke arah dalam. Dengan dibuangnya/dibersihkannya lapisan kambium pada waktu penyayatan dan pengupasan kulit batang, maka zat-zat makanan ataupun segala sesuatu yang berasal dari daun-daun bagian atas sayatan tidak akan dapat mengalir ke bawah sayatan atau menuju ke akar. Dengan demikian zat-zat makanan yang bergerak dari atas akan terbendung di bagian atas sayatan, sehingga di bagian tersebut kulit batang akan menggembung. Pada bagian yang menggembung ini sebenarnya terjadi penumpukan auksin serta karbohidrat, dan dengan media tanah, auksin dan karbohidrat tersebut akan menstimulir timbulnya akar pada batang di bagian atas sayatan.

Mencangkok adalah menguliti hingga bersih dan menghilangkan kambium pada cabang atau ranting sepanjang 5-10 cm. Tumbuhan dikotil yang dicangkok akan memiliki akar serabut, bukan akar tunggang. Tumbuhan hasil cangkokan akan lebih cepat berbuah dibandingkan tumbuhan yang ditanam dari biji dan memiliki sifat yang sama dengan induknya. Akan tetapi, tumbuhan hasil cangkokan mudah roboh, karena sistem perakarannya adalah serabut, dan umurnya lebih pendek dibandingkan tumbuhan yang ditanam dari biji (Anonim, 2009).
Tujuan pencangkokan adalah untuk mendapatkan anakan/bibit untuk pembangunan bank klon, kebun benih klon, kebun persilangan, karena dengan teknik ini bibit yang dihasilkan bersifat dewasa sehingga lebih cepat berbunga/berbuah. Pencangkokan dilakukan pada pohon-pohon plus yang telah dipilih di kebun benih. Penggunaan teknik mencangkok dilakukan dalam rangka penyediaan materi untuk bank klon, kebun persilangan dan kebun benih klon (Kartiko, 2000).
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada kegiatan pencangkokan antara lain:
a.       Pencangkokan sebaiknya dilakukan pada musim hujan sehingga akan membantu dalam menjaga kelembaban media sampai berakar.
b.      Pengambilan cangkok dilakukan setelah cangkok berumur 2 - 3 bulan. Pemotongan cangkok menggunakan gergaji kemudian diturunkan secara hati-hati. Cangkok yang terlalu panjang dipotong sebagian dan daunnya dikurangi untuk mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
c.       Cangkok yang telah dipisahkan dari pohon induknya segera ditanam (aklimatisasi) pada media campuran tanah dengan kompos/pupuk kandang (3:1). Kegiatan ini dilakukan di persemaian yang diberi naungan dengan intensitas cahaya lebih dari 50%. Pemeliharaan cangkok di persemaian dilakukan sampai bibit siap ditanam di lapangan. Biasanya setelah 3 bulan cangkok telah memiliki perakaran yanag kompak dan siap dipindahkan ke lapangan.
d.      Pembuatan cangkok pada satu pohon tidak bisa dilakukan dalam jumlah banyak, karena akan mengganggu atau merusak pohon tersebut (Hamdan, 2007).
Keuntungan penggunaan teknik pembibitan secara vegetatif antara lain keturunan yang didapat mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya, tidak memerlukan peralataan khusus, alat dan teknik yang tinggi kecuali untuk produksi bibit dalam skala besar, produksi bibit tidak tergantung pada ketersediaan benih/musim buah, bisa dibuat secara kontinyu dengan mudah sehingga dapat diperoleh bibit dalam jumlah yang cukup banyak, meskipun akar yang dihasilkan dengan cara vegetatif pada umumnya relatif dangkal, kurang beraturan dan melebar, namun lama kelamaan akan berkembang dengan baik seperti tanaman dari biji, umumnya tanaman akan lebih cepat bereproduksi dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari biji (Pudjiono, 1996).
Pembungkus media cangkok antara lain ijuk, sabut kelapa, pot plastik, potongan botol bekas kemasan air mineral, gelas bekas kemasan air mineral atau tabung bambu. Namun, pembungkus yang terbaik adalah plastik bening karena dapat menahan penguapan air di dalam media sehingga kelembabannya tetap tinggi. Keadaan ini membuat akar semakin cepat tumbuh. Selain itu, dengan menggunakan plastik bening, pertumbuhan akar juga gampang dikontrol setiap saat (Redaksi Agromedia, 2007).
Semua percabangan pohon induk dapat dicangkok, asalkan rajin mengeluarkan buah. Namun untuk efisiensi, cukup cabang dan ranting berukuran kecil yang dicangkok agar dari satu pohon induk dapat diperoleh belasan atau puluhan bibit cangkokan. Selain itu, bentuk tajuk pohon induk tetap terjaga jika cabang atau ranting kecil saja yang dicangkok. Pilih cabang atau ranting yang memiliki panjang 20-30 cm. sosoknya tegap, mulus, dan sehat dengan warna kulit coklat muda atau hijau kecoklatan tergantung pada jenis tanamannnya. Perlu diperhatikan, jangan mencangkok cabang yang berwarna kehitaman dan berkerak karena lambat menumbuhkan akar. Selain itu, umur cabang yang dicangkok tidak boleh terlalu tua atau terlalu muda karena cabang seperti ini hanya memiliki sedikit persediaan makanan sehingga menghambat tumbuhnya akar (Redaksi Agromedia, 2007).

Grafting (menyambung tanaman)


Grafting ini bukanlah sekedar pekerjaan menyisipkan dan menggabungkan suatu bagian tanaman, seperti cabang, tunas atau akar pada tanaman yang lain. Melainkan sudah merupakan suatu seni yang sudah lama dikenal dan banyak variasinya. Sharock’s (1672) dalam Wudianto (2002) menyatakan bahwa seni grafting ini telah digemari sejak dua abad yang lalu, yaitu sekitar abad ke-15 dia menggambarkan betapa pelik dan banyaknya ragam dari seni grafting ini. Disamping itu Thouin dalam Wudianto (2002) mengatakan bahwa ada 119 bentuk grafting. Dari sekian banyak grafting ini digolongkan menjadi tiga golongan besar, yaitu :
1. Bud-grafting atau budding, yang kita kenal dengan istilah okulasi
2. Scion grafting, lebih populer dengan grafting saja, yaitu sambung pucuk atau enten
3. Grafting by approach atau inarching, yaitu
Cara menyambung tanaman sehingga batang atas dan batang bawah masih berhubungan dengan akarnya masing-masing. Penyambungan disini berarti penyatuan antara batang atas (sepotong cabang dengan dua atau tiga tunas vegetatif) dengan batang bawah yang sehingga gabungan ini bersama-sama membentuk individu yang baru (Wudianto, 2002).
            Batang bawah sering juga disebut stock atau root stock atau bahasa belandanya onder stam. Ciri dari batang ini adalah batang masih dilengkapi dengan akar, sedangkan batang atas yang disambungkan sering disebut entris atau scion. Batang atas dapat berupa potongan  batang atau bisa juga cabang pohon induk, kadang-kadang untuk penyambungan ini memerlukan batang perantara (Inter-Stock).
            Agar batang atas dan batang bawah bisa terus merupakan perpaduan yang kekal, maka sebaiknya dipilih batang atas dan batang bawah yang masih mempunyai hubungan keluarga yang dekat. Hal demikian tidak selamanya benar, klasifikasi botani biasanya hanya berdasarkan sifat-sifat reproduksinya, sedangkan penyambungan justru yang dipertimbangkan adanya persamaan sifat-sifat vegetatif tanaman. Selama ini yang digunakan sebagai patokan untuk melakukan penyambungan adalah berdasarkan sifat botaninya, maka tidak jarang suatu penyambungan mengalami kegagalan (Anonim, 1993).
            Penyambungan antar varietas (masih dalam satu species) tidak pernah mengalami kesulitan, misalnya penyambungan karet varietas gondang tapeh I dan wungun rejo dengan karet ciranji I atau varietas LCB 479. Demikian juga bila kita melakukan penyambungan dua tanaman yang jenis atau speciesnya lain tapi masih dalam satu marga, tingkat keberhasilannya masih cukup tinggi, walaupun kadang-kadang juga ditemui kegagalan.  Sebagai contoh penyambungan yang berhasil adalah mangga madu (Mangifera indica) yang disambungkan dengan mangga Kweni (Mangifera odorata) untuk tanaman buah-buahan, sedangkan untuk tanaman kehutanan Eucalyptus pellita disambungkan dengan Eucalyptus delupta. Kemungkinan keberhasilan penyambungan tanaman menjadi lebih kecil apabila melakukan penyambungan antar marga yang masih dalam satu famili apalagi penyambungannya antar famili, tingkat keberhasilannya makin kecil (Rochiman, 1973).
            Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan 0,05% hormon IAA atau IBA bisa meningkatkan keberhasilan penyambungan, caranya dengan mencelupkan atau mengolesi kedua ujung yang akan dilekatkan, atau menyemprotkan batang atas sebelum disambung (Pracaya, 1992).