Powered By Blogger

succes men

succes men
ngasi sambutan nie

Selasa, 27 April 2010

hama Penting tanaman kedelai

LAPORAN PRAKTIKUM

HAMA PENTING TANAMAN UTAMA

Acara : Mengenal dan Mengidentifikasi Jenis Hama pada Tanaman Kedelai

Tempat : Lahan pertanaman Kedelai

Oleh :

Mahbub Al Qusaeri

071510401050

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER

2009

I. PENDAHULUAN


1.1 Tinjauan Pustaka


Sejumlah jenis tanaman penting yang diusahakan di Indonesia berasal dari tempat lain di dunia. Tanaman kedelai diduga berasal dari dataran Cina. Sumber genetic (plasma nutfah) tanaman kedelai tumbuh di daerah pegunungan Cina bagian tengah dan barat, serta dataran rendah sekitarnya. Sumber genetik kedelai di luar kawasan Cina ditemukan di Amerika dan Mansjuriah. Dalam perkembangan selanjutnya tanaman ini menyebar luas di berbagai negara di dunia, terutama daerah-daerah yang telah dikenal pertaniannya (AAK, 2000).

Kedelai atau kedele, atau “soybean” amat dibutuhkan sebagai bahan pangan sumber protein nabati bagi manusia, dan makin diperlukan dalam berbagai industri serta pakan ternak. Permintaan kedelai cenderung terus meningkat dari waktu ke waktu, terutama di Indonesia. Kedelai mempunyai kegunaan yang luas dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai dapat meningkatkan kesuburan tanah, karena akar-akarnya dapat mengikat Nitrogen bebas (N2) dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium sp., sehingga unsur Nitrogen bagi tanaman tersedia dalam tanah.

Kedelai telah beratus-ratus tahun dibudidayakan di Indonesia, dan prospek pengembangannya lumayan baik. Hal ini memberikan isyarat bahwa kedelai mempunyai nilai ekonomi sosial yang tinggi dan perannya makin strategis dalam tatanan kehidupan manusia. Kedelai merupakan komoditas pertanian yang sangat dibutuhkan di Indonesia, baik sebagai bahan makanan manusia, pakan ternak, bahan baku industri maupun bahan penyegar. Bahkan dalam tatanan perdagangan pasar internasional, kedelai merupakan komoditas ekspor berupa minyak nabati, pakan ternak dan lain-lain di berbagai negara di dunia (Rukmana, 2001).

Bila dikaji lebih lanjut, mengapa Indonesia yang merupakan negara agraris tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri ? Ternyata banyak sekali factor penyebabnya. Salah satu diantaranya karena luas areal pertania yang cenderung menurun karena berubahnya fungsi lahan ke nonpertanian, seperti untuk industri dan perumahan. Hal ini yang menyebabkan luas areal panen kedelai di daklm negeri relative tetap, bahkan sebenarnya kurang dari data yang telah dicatat. Faktor lainnya ialah petani kurang bergairah menanam kedelai karena keuntungannya relatif kecil. Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman yang tergolong manja atau penuh resiko.

Oleh petani, hal-hal di atas belum disadari benar sehingga kebanyakan penanaman kedelai masih dilakukan secara asal-asalan atau sebagai tanaman kedua. Bahkan di beberapa daerah kedelai malah dijadikan sebagai tanaman cash crop (tanaman yang diperdagangkan) apabila tanaman padi tidak begitu sukses. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika di banyak tempat masih dijumpai penanaman kedelai secara tradisional oleh petani. Akibatnya, produktivitas yang dihasilkan masih sekitar 1 ton/ha dan ini masih jauh dari hasil penelitian yang telah dapat menembus angka di atas 2 ton/ha (Adisarwanto, 1999).




1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum kali ini ialah untuk mengetahui dan juga mengidentifikasi semua jenis-jenis hama utama yang biasa menyerang pada lahan tanaman kedelai.












II. METODOLOGI



2.1 Alat dan Bahan


2.1.1 Alat

Jaring

alat tulis

kertas gambar

kantong plastik


2.1.2 Bahan

lahan pertanaman kedelai



2.2 Cara Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Memungut hama - hama yang ada tanaman kedelai, secara manual, dan meletakkan pada kantong plastik yang telah disediakan.

3. Mengidentifikasi dan menggambar dalam draft acara hama-hama apa saja yang ditemukan.











III. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil Pengamatan

Serangan hama dan penyakit pada kedelai merupakan kendala utama dalam meningkatkan produksi kedelai. Menyempitnya keragaman genetik tanaman dan usaha peningkatan produksi yang kurang memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang menjaga populasi hama, yaitu dengan penggunaan pestisida yang berlebihan, merupakan penyebab meledaknya populasi organisme pengganggu. Didapatkan beberapa jenis hama-hama utama yang telah didapat pada lahan tanaman kedelai, yaitu sebagai berikut :

1. Ordo : Lepidoptera

Famili : Pyralidae

Spesies :






2. Ordo : Hemiptera

Famili : Pentatomidae

Spesies : Nezara viridula


3. Ordo : Homoptera

Famili : Cicadelidae

Spesies : Empoasca sp.

4. Ordo : Lepidoptera

Famili : Noctuidae

Spesies : Helicoverpa spp.



5. Ordo : Lepidoptera

Famili : Pyralidae

Spesies : Etiella spp.







3.2 Pembahasan

Tanaman kedelai sangat banyak sekali kegunaannya di dalam tatanan kehidupan manusia. Penanaman kedelai selain dapat meningkatkan kesuburan tanah, akar-akar dari tanaman tersebut juga dapat mengikat Nitrogen bebas yang tersedia di dalam tanah. Bagian yang paling penting dari tanaman kedelai ialah bijinya. Biji kedelai dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan, misalnya dibuat tahu, tempe, kecap dan susu kedelai.

Alasan utama kedelai diminati masyarakat luas di dunia antara lain adalah karena dalam biji kedelai terkandung gizi yang tinggi, terutama kadar protein nabati. Selain itu, kedelai juga berkhasiat sebagai obat beberapa jenis penyakit. Penyakit tersebut antara lain, pencegah kanker dan jantung koroner. Timbulnya kanker dalam tubuh karena senyawa “Nitrosamin”. Kedelai mengandung dua senyawa penting yaitu Phenolik dan asam lemak tak jenuh. Kedua senyawa tersebut dapat menekan munculnya bentuk senyawa Nitrosamin, sehingga berfungsi sebagai penangkal kanker.

Di dalam praktikum kali ini, kami meninjau sebuah lahan pertanaman kedelai yang telah tandus dan juga kering. Hal ini kemungkinan disebabkan karena perawatan suatau lahan tersebut sangat minim sekali dilakukan oleh para petani. Sehingga menyebabkan lahan tersebut juga sangat untuk diproduksi hasil panen dari tanaman kedelai tersebut.

Secara garis besar terdapat dua kendala utama dalam pencapaian swasembada kedelai, yaitu nonteknis dan teknis. Kendala nonteknis lebih banyak kepada penerimaan dan sikap petani terhadap tanaman kedelai. Kendala lainnya ialah faktor penunjang ketersediaan saprodi yang tepat waktu, jumlah, jenis, cara pemberian, dan jaminan harga yang layak.

Dari aspek teknis masih banyak hal yang belum dilaksanakan dengan tepat dan benar dari komponen-komponen teknologi produksi yang telah dianjurkan kepada petani atau karena petani masih melaksanakan 1-2 komponen saja. Komponen-komponen tersebut antara lain penggunaan benih dengan kualitas rendah atau varietas local dengan potensi hasil rendah, pengendalian hama penyakit yang belum baik, serta kekurangan atau kelebihan air.

Sedangkan untuk jenis-jenis hama utama yang telah menyerang tanaman kedelai, didapatkan antara lain :

Hama Riptortus linearis dari ordo Hemiptera, famili Coreidae, sering disebut kepik polong. Nimfa atau dewasanya merusak seluruh stadia pertumbuhan tanaman, terutama pada pembentukan polong dan biji. Cara merusak dengan menusuk kulit polong dan menghisap cairan biji, sehingga polong gugur, mengering, biji berbintik dan menjadi busuk berwarna hitam. Kepik dewasa bertubuh panjang, berwarna kuning coklat dilengkapi garis putih kekuning-kuningan di sepanjang tubuhnya. Kepik jantan panjangnya 11 mm – 13 mm. Perut kepik betina bagian tengah membesar dan menggembung, sedang perut kepik jantan lurus ke belakang. Umur dewasa adalah 4 – 47 hari.

Telur diletakkan berkelompok pada permukaan daun bawah atau polong tiga sampai lima butir. Telur berbentuk bulat dan bagian tengah agak cekung. Telur yang baru diletakkan berwarna abu-abu, kemudian berubah menjadi coklat suram. Telur menetas setelah 6-7 hari. Nimfa mengalami 5 kali instar. Masing-masing instar berbeda bentuk, warna , ukuran dan umurnya. Total umur nimfa adalah sekitar 23 hari.

Pengendalian hama ini, dengan pengendalian non-kimiawi antara lain dengan menerapkan pergiliran tanaman yang bukan sefamili, mengatur waktu tanam secara serempak, pengumpulan kepik untuk dimusnahkan, dan menjaga kebersihan kebun dari rumput-rumput liar. Pengendalian kimiawi adalah dengan cara disemprot insektisida pada waktu tanaman berumur 45 hari setelah tanam apabila ditemukan sepasang kepik coklat di kebun kedelai. Jenis insektisida yang mangkus adalah Micpin 50 WP atau Monitor 200 LC.

Hama Empoasca sp. dari ordo Homoptera, termasuk famili Cicadelidae, sering disebut wereng. Nimfa dan dewasa dapat menyebabkan kerusakan tanaman yang berat karena mengisap cairan daun. Daun yang terserang menyerupai daun yang terbakar. Serangga hama ini sangat membahayakan apabila menyerang tanaman muda. Populasinya melimpah pada saat bulan kering.

Telur berwarna biru keputih-putihan, panjangnya sekitar 0,55 mm. Telur diletakkan secara tunggal yang diselipkan pada jaringan tanaman, ketiak daun. Waktu bertelur pada sore atau pagi hari. Telur menetas setelah 6-7 hari. Nimfa mengalami 4 kali instar. Lama stadia nimfa adalah 5-15 hari.

Nimfa hidup pada permukaan daun bagian bawah. Instar terakhir yang akan menjadi dewasa berwarna hijau pucat. Nimfa panjangnya sekitar 2,20 mm dan lebar 0,60 mm. Nimfa berjalan serong dan meloncat apabila berpindah tempat Wereng dewasa berwarna hijau kekuning-kuningan, panjangnya 2,33 mm – 2,65 mm. Lama hidup wereng dewasa jantan sekitar 8 hari, sedangkan yang betina dapat mencapai 36 hari. Total perkembangan 11-17 hari dan telur sampai menginjak dewasa. Untuk pengendalian dari hama ini dengan melakukan tanam serempak, tidak lebih dari 10 hari. Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Dengan penyemprotan insektisida, misalnya Supracide 40 EC.

Nezara viridula atau yang lebih dikenal dengan sebutan kepik hijau ini merupakan salah satu dari ordo Hemiptera yang termasuk dalam famili Pentatomidae dimana hama ini akan menyerang bagian polong pada tanaman kedelai. Gejala yang dapat diamati pada serangan hama ini pada nimfa dan kepik dewasa akan menghisap cairan polong dan biji kedelai yaitu dengan cara menusukan alat mulutnya (stilet) pada kulit polong dan terus kebiji dan kemudian menghisap cairan yang ada di biji sehingga dapat menurunkan hasil dari segi kualitas dan kuantitasnya serta dapat menurunkan daya kecambah, dan juga menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak sempurna.

Nimfa berwarna hijau, mata berwarna hitam, dan antena berwarna hijau pucat atau coklat. Panjang nimfa rata-rata 9 mm dan lebar 6,86 mm. Perkembangan hidup hama ini pada stadium telur 5-7 hari dan pada stadium nimfa berlangsung selama 23 hari sehingga daur hidupnya berlangsung selama 29 hari. Mengenai pengendalian hama ini dengan cara tanam serempak, tidak lebih dari 10 hari. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Penyemprotan dengan insektisida apabila dijumpai intensitas kerusakan tanaman lebih besar dari 2% atau dijumpai sepasang iamago/20 rumpun tanaman. Penyemprotan dengan insektisida, misalnya Atabron 50 EC, Dimilin 25 WP, Fastac 15 EC dan Matador 25 EC.

Etiella spp. atau yang lebih dikenal sebagai ulat penggerek polong ini merupakan ordo dari Lepidoptera yang termasuk dalam famili Pyralidae. Pada hama ini juga menyerang bagian polong pada tanaman kedelai. Gejala serangan terdapat lubang gerek pada kulit polong dan apabila terdapat dua lubang pada polong berarti hama ini sudah pergi dari polong tersebut. Larvanya merusak biji dengan cara menggerek polong terlebih dahulu, selanjutnya larva hidup di dalam biji. Akibat serangan ini akan dapat menimbulkan penurunan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Perkembangan hidup hama ini pada telur yang sudah menetas akan berkembang menjadi stadium ulat selama 13-18 hari lalu membentuk kepompong di dalam tanah 9-15 hari sehingga daur hidup hama ini sekitar 28-41 hari. Cara pengendalian hama ini dengan cara tanam serempak, tidak lebih dari 10 hari. penyemprotan insektisida dengan memperhatikan ambang kendali, yaitu intensitas kerusakan lebih dari 2% atau 2 ekor ulat/rumpun pada tanaman berumur lebih dari 45 hari.

Helicoverpa. armigera merupakan hama utama tanaman kedelai. Serangan hama ini menyebabkan tongkol kedelai muda rusak berat, sedangkan pada tongkol yang tua mengakibatkan kerusakan terhadap biji-biji pada ujung tongkol. Larva hama ini memakan biji di dalam tongkol dan bersifat kanibal. Sehingga dalam satu tongkol hanya terdapat satu ekor H. armigera. Hama ini mempunyai banyak tanaman inang dan sangat polifag. Warna ulat bervariasi, ada yang hijau kekuningan, hijau, hijau kecokelatan, cokelat tua hampir hitam, dan cokelat muda. Badannya tertutup dengan banyak kutil dan bula. Bentuk telur bulat. Hidup di dataran rendah sampai ketinggian 2.000 m dpl, ngengat makan madu dari bunga-bunga tanaman dan biasanya bertelur pada tanaman yang sedang berbunga, misalnya pada tanaman kedelai, sorghum, dan tanaman berbuah polong sehingga pada waktu menetas, larvanya telah punya makanan berupa buah yang baru saja berkembang.

Telurnya diletakkan satu persatu dalam jumlah yang besar pada bagian atas tanaman inang, ulat yang baru menetas kemudian turun ke bawah makan buahnya. Ngengat bisa bertelur sampai 1.000 butir. Ulat ini bersifat kanibal, biasanya dalam satu tongkol jagung jarang terdapat ulat lebih dari satu atau dua. Ulat dewasa turun ke tanah dan berkepompong di sana. Perkembangan dari telur sampai ngengat lebih kurang 35 hari. Ulat ini pemakan segala tanaman, biasanya melubangi buah, tetapi ada juga yang memakan daun tembakau. Ulat ini menyerang jagung, tomat, tembakau, kapas, kentang, jarak, polong pupuk hijau, bermacam-macam sayuran dan tanaman hias. lembap. Bila banyak hujan telur dan ulatnya.

Pengendalian Dengan rotasi tanaman, jangan terus menerus menanam tembakau, jagung, tomat dan kapas, juga dapat disemprot dengan insektisida, misalnya Cymbush, Nuvacron, dan lain-lain. Tanaman liar Mimosa invisa (pis kucing) yang sering menjadi tanaman inang dibersihkan. Pada waktu malam ngengat ditangkap dengan perangkap lampu. Apabila tanaman tembakau atau tanaman kapas banyak diserang H. armigera, di tepi kebun tembakau atau kapas tanamlah kedelai sebagai tanaman perangkap untuk mengurangi serangan, dan jangan lupa memberantas ulat yang menyerang jagung. Ngengat bertelur waktu kedelai berbunga (Pracaya, 2005).















IV. KESIMPULAN



Berdasarkan hasil pengamatan dan juga pembahasan yang telah didapatkan pada praktikum kali ini, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

a. Penanaman kedelai selain dapat meningkatkan kesuburan tanah, akar-akar dari tanaman tersebut juga dapat mengikat Nitrogen bebas yang tersedia di dalam tanah. Bagian yang paling penting dari tanaman kedelai ialah bijinya.

b. Secara garis besar terdapat dua kendala utama dalam pencapaian swasembada kedelai, yaitu nonteknis dan teknis. Kendala nonteknis lebih banyak kepada penerimaan dan sikap petani terhadap tanaman kedelai. Dari aspek teknis masih banyak hal yang belum dilaksanakan dengan tepat dan benar dari komponen-komponen teknologi produksi yang telah dianjurkan kepada petani.

c. Kedelai juga berkhasiat sebagai obat beberapa jenis penyakit. antara lain, pencegah kanker dan jantung koroner. Timbulnya kanker dalam tubuh karena senyawa “Nitrosamin”. Kedelai mengandung dua senyawa penting yaitu Phenolik dan asam lemak tak jenuh. Kedua senyawa tersebut dapat menekan munculnya bentuk senyawa Nitrosamin, sehingga berfungsi sebagai penangkal kanker.

d. Pada tanaman kedelai juga terdapat beberapa jenis hama-hama utama yang menyerang tanaman tersebut, antara lain Riptortus linearis, Empoasca sp., Etiella spp, Helicoverpa. amigera, Nezara viridula









DAFTAR PUSTAKA


AAK. 2000. Kedelai. Kanisius. Yogyakarta.


Adisarwanto dan Wudianto. 1999. Meningkatkan hasil panen kedelai di lahan

Sawah, kering, dan pasang surut. PT Penebar Swadaya. Bogor.


Pracaya. 2005. Pracaya, Hama & Penyakit Tanaman. Jakarta : Penebar Swadaya


Rukmana, Rahmat dan Yuniarsih, Yuyun. 2001. Kedelai Budidaya dan

pascapanen. Kanisius. Yogyakarta.




































Hama yang lainnya ialah Aphis craccivora dari ordo Homoptera, dan famili Aphididae. Hama ini sering disebut kutu daun. Kutu ini merusak tanaman dengan cara menghisap cairan daun atau bagian tanaman yang masih muda. Selain sebagai hama, serangga ini sebagai vektor beberapa penyakit virus pada tanaman. Kutu daun dapat berkembang biak dengan cara partenogenesis (tanpa dibuahi oleh serangga jantan).

Sekitar lima hari kemudian, kutu yang baru menetas sudah mampu beranak sehingga menghasilkan keturunan-keturunan baru dalam jumlah banyak. Pada kondisi persediaan pakan terbatas, kutu daun akan membentuk sayap untuk berpindah tempat. Hama ini berwarna hitam dengan panjang 1 – 1,5 mm. Larvanya setelah satu minggu menjadi dewasa dan mulai menyerang dari balik daun dan kuncup tunas.

Pengendalian hama ini ialah dengan tanam kedelai serempak dengan selisih waktu tanam kurang dari 10 hari. Memantau lahan secara rutin dan bila menemukan bagian tanaman yang terdapat kutu Aphis segera dibuang dan dibakar. Menghindarkan areal tanaman kedelai dari tanaman inang, seperti terung-terungan, dan kacang-kacangan. Memanfaatkan predator dan parasit sebagai musuh alami dan juga melakukan penyemprotan dengan menggunakan insektisida, misalnya Atabron 50 EC, Matador 25 EC.


Hama Lamprosema indica termasuk dalam ordo Lepidoptera, dan famili Pyralidae. Hama ini merupakan penggerek yang merusak berbagai bagian tanaman, khususnya menimbulkan kerusakan cukup besar karena menghisap daun hingga layu. Hama ini sering disebut dengan penggulung daun, ulat merusak dengan cara memakan daun. Ulat ini sering dijumpai di dalam gulungan daun, gulungan daun mulai dibentuk oleh ulat muda pada bagian pucuk tempat telur diletakkan.

Gulungan daun dibentuk dengan cara melekatkan daun satu dengan yang lainnya dari sisi dalam zat perekat yang dikeluarkan oleh ulat yang bersangkutan. Apabila gulungan daun dibuka, maka akan dijumpai ulat berwarna hijau transparan yang bergerak cepat. Ulat memakan daun hingga terlihat tulang daunnya saja. Hama ini merusak tanaman kedelai pada umur 3-6 minggu setelah tanam.

Untuk pengendaliannya terdiri dari 2 cara, pengendalian non kimiawi antara lain dengan pergiliran tanaman yang bukan sefamili dan pengumpulan ulat untuk dimusnahkan, serta mengatur waktu tanam secara serempak. Untuk pengendalian kimiawi ialah dengan disemprot insektisida yang mangkus dan selektif apabila mencapai ambang ekonomi. Jenis insektisida yang digunakan antara lain adalah Matador 25 EC, Sevin 85 S pada konsentrasi yang dianjurkan.






















weteng kembung.hama tanaman utama pada kakao


I. PENDAHULUAN

1.1 Tinjauan Pustaka

Tanaman cokelat (Theobroma cacao L) termasuk famili Sterculiaceae. Tanaman ini berasal dari hutan di daerah Amerika selatan, yang kemudian tanaman ini diusahakan penanamannya oleh orang-orang Indian. Sesungguhnya terdapat banyak jenis tanaman cokelat, namun jenis yang paling banyak ditanam untuk produksi cokelat secara besar-besaran hanya 3 jenis, yaitu jenis Criollo, jenis Forastero, jenis Trinitario.

Di daerah-daerah tempat asalnya (Amerika Selatan), tanaman cokelat tumbuh subur di hutan-hutan dataran rendah dan hidup di bawah naungan pohon-pohon yang tinggi. Kesuburan tanah, kelembapan udara, suhu dan curah hujan berpengaruh besar terhadap proses pembuahan tanaman cokelat (bagi tanaman dewasa atau tua). Musim kering yang panjang dapat mematikan tanaman cokelt muda.Tanaman cokelat yang berasal dari biji (generatif) memiliki akar tunggang yang tumbuh lurus ke bawah (Sunanto, 2002).

Produsen cokelat yang terbanyak ialah negara-negara beriklim tropis, seperti Afrika dan Amerika Selatan. Di Negara-negara tersebut konsumsi cokelat masih sangat rendah dan lebih dari 80% seluruh produksi cokelat diekspor ke negara-negara konsumsi, terutama Eropa barat, Eropa Timur, dan Amerika Utara.

Cekelat merupakan salah satu komoditas yang sangat penting, baik sebagai sumber penghidupan bagi jutaan petani produsen maupun sebagai salah satu bahan penyedap yang sangat diperlukan untuk produksi makanan, kue-kue, dan berbagai jenis minuman. Cokelat juga merupakan sumber lemak nabati yang memiliki keistimewaan yaitu : dapat meleleh / mencair pada suhu di mulut (Riyadi, 1989).

Biji cokelat yang dihasilkan dari negara-negara penghasil cokelat perlu segera sampai di pabrik-pabrik Negara konsumen cekelat. Sebab, biji cokelat tidak tahan disimpan lebih dari 9 bulan, terutama di Negara-negara beriklim tropis yang lembap dan panas, walaupun disimpan di gudang-gudang yang baik. Di negara-negara konsumen yang kondisi iklimnya memungkinkan, biji cokelat dapat disimpan di gudang lebih lama.

Pada masa lampau, ternyata konsumsi cokelat seluruh dunia meningkat sekitar 2,7% setiap tahunnya. Kebutuhan cokelat di seluruh dunia diperkirakan dapat dikarenakan dapat menyerap seluruh produksi cokelat dunia. Pengaruh goncangan harga cokelat sangat kecil, sebab permintaan cokelat dunia semakin meningkat. Naik turunnya harga cokelat biasanya hanya dipengaruhi oleh adanya perubahan-perubahan iklim (Siswoputranto, 1978)

Pengembangan tanaman cokelat dapat dilakukan dengan biji atau benih (generatif) dan dengan stek atau cangkok (vegetatif). Pengembangan secara generatif paling sering dilakukan, karena cepat menghasilkan bibit dalam jumlah banyak. Sedangkan cara vegetatif jarang dilakukan, karena untuk mendapatkan bibit membutuhkan waktu yang cukup lama dan jumlah bibit yang diperoleh sedikit. Untuk mendapatkan bibit yang unggul dapat dilakukan melalui okulasi dan penyusunan (Anonim, 1979).

1.2 Tujuan Praktikum

Tujuan praktikum kali ini ialah untuk mengetahui gejala serangan apa saja yang tedapat pada tanaman cokelat dan juga untuk mengetahui dan mengidentifikasi jenis-jenis hama utama yang menyerang pada areal pertanaman cokelat.

II. METODOLOGI

2.1 Alat dan Bahan

2.1.1 Alat

§ alat tulis

§ kertas gambar

§ kantong plastik

§ kunci determinasi

2.1.2 Bahan

§ lahan pertanaman cokelat

2.2 Cara Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan.

  1. Memungut hama - hama yang ada tanaman cokelat, secara manual, dan meletakkan pada kantong plastik yang telah disediakan.
  2. Mengidentifikasi dan menggambar dalam draft acara hama-hama apa saja yang ditemukan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

Serangan hama dan penyakit pada cokelat merupakan kendala utama dalam meningkatkan produksi cokelat. Menyempitnya keragaman genetik tanaman dan usaha peningkatan produksi yang kurang memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang menjaga populasi hama, yaitu dengan penggunaan pestisida yang berlebihan, merupakan penyebab meledaknya populasi organisme pengganggu. Didapatkan beberapa jenis hama-hama utama yang telah didapat pada lahan tanaman cokelat, yaitu sebagai berikut :

1. Ordo : Lepidoptera

Famili : Gracillariidae

Spesies : Penggerek buah cokelat (Conopomorpha cramella)

2. Ordo : Homoptera

Famili : Pseudococcidae

Spesies : Kutu putih (Planococus citri)

3. Ordo : Lepidoptera

Famili : Gracillariidae

Spesies : Kepik penghisap buah cokelat (Helopeltis sp.)

Pembahasan

Pada praktikum kali yaitu untuk mengetahui semua jenis-jenis hama utama yang ada di pertanaman kakao/cokelat. Banyak sekali hama yang menyerang tanaman cokelat akhir-akhir ini dan sangat merugikan petani dalam hal kuantitas cokelat yang akan dipanen. Setelah dilakukan pengamatan di lapang, telah didapatkan beberapa hama yang menyerang tanaman cokelat tersebut, diantaranya ialah hama sebagai berikut.

Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) merupakan hama utama pada ekosistem kakao. Hama ini bersifat homodinamik dan endemik. Para ahli entomologi melaporkan bahwa PBK berasal dari spesies yang sama dengan spesies yang menyerang buah rambutan tetapi biotipenya berbeda. Biotipe tersebut dapat beradaptasi pada buah kakao, selanjutnya memencar dan hidup pada suatu daerah. Penyebaran PBK sejalan dengan adanya perluasan areal tanam kakao dan introduksi bahan tanaman. Serangan PBK dapat menyebabkan kerusakan buah dan kehilangan produksi biji 82,20%.

Larva Conopomorpha cramella menggerek buah cokelat menjadi busuk. Setelah buah ditinggalkan oleh larva, pertumbuhan biji terganggu., saling menempel sehingga akhirnya menjadi hitam dan keriput. Jika buah yang telah ditinggalkan larva dibelah, terlihat sejumlah liang gerek berwarna cokelat pada bagian dalam kulit buah dan daging buah.

Buah kakao yang diserang berukuran panjang 8 cm, dengan gejala masak awal, yaitu belang kuning hijau atau kuning jingga dan terdapat lubang gerekan bekas keluar larva. Pada saat buah dibelah biji-biji saling melekat dan berwarna kehitaman, biji tidak berkembang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Selain itu buah jika digoyang tidak berbunyi. Kerugian yang disebabkan oleh hama ini sangat besar, baik dari segi jumlah maupun mutu hasil. Buah-buah yang terserang hanya menghasilkan sepertiga dari hasil yang sebenarnya dapat dicapai oleh buah yang sehat.

Cara Hidup ngengat ini aktif pada malam hari. Daya terbangnya tidak terlalu jauh, tetapi mudah terbawa angin. Panjang tubuhnya sekitar 7mm dan lebarnya sekitar 2 mm. Sayap depan berwarna hitam bergaris-garis putih, pada setiap ujungnya terdapat serbuah bintik kuning dan sayap belakang seluruhnya berwarna hitam.

Pada umumnya jenis ngengat ini memilih buah yang masih muda (panjang sekitar 7 cm) sebagai tempat untuk meletakkan telur. Telur berbentuk bulat panjang berwarna kemerah-merahan, diletakkan satu per satu pada lekukan buah. Setelah menetas, larva menggerek ke dalam buah. Lubang gerekan berada tepat di bawah tempat peletakan telur. Biasanya larva kepompong pada daun atau pada lekukan buah. Seringkali kepompong juga ditemukan pada daun dan kertas yang ada di sekitar pohon.

Penanggulangan PBK sangat terkait dengan bioekologi hama tersebut, dan petani sebagai pelaku pengendalian, terutama yang terkait dengan motivasi, sikap, kepedulian, budaya asli, pengetahuan lokal, dan kondisi social Selain tanaman cokelat, tanaman inang lainnya ialah rambutan. Cara yang biasa dilakukan untuk mengendalikan Penggerek Buah Cokelat ialah dengan rampasan buah. Setiap tahun sekali dilakukan rampasan terhadap semua buah cokelat. Dengan cara demikian ngengat itu hanya terbang di sekitar tanaman cokelat tanpa menemukan tempat untuk bertelur. Akhirnya ngengat akan mati tanpa meninggalkan keturunan.

Dengan karantina yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK. Dengan pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4 m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen. Dengan mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam. Dengan penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan menggunakan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus. Dengan cara kimiawi: dengan Deltametrin (Decis 2,5 EC), Sihalotrin (Matador 25 EC), Buldok 25 EC dengan volume semprot 250 l/ha dan frekuensi 10 hari sekali.

Hama Kepik penghisap buah cokelat (Helopeltis sp.) Panjang Helopeltis lebih kurang 7-9 mm dan lebarnya 2 mm. Mempunyai kaki yang panjang dan antena yang sangat panjang. Warnanya bermacam-macam, ada yang cokelat, merah, oranye sampai kuning. Warna telur putih panjang 1,5-2,0 mm, bentuk seperti tabung-test sedikit bengkok dengan tutup yang bulat dengan dua rambut pada satu ujung. Telur dimasukkan satu-satu dalam jaringan tanaman yang lunak, hanya tutup dan rambut-rambutnya saja yang terlihat dari luar. Umumnya telur diletakkan dalam tangkai daun atau urat-urat daun yang besar. Menetas setelah 1-4 minggu, tergantung temperatur. Nimfanya langsing dengan warna merah dan kuning.

Nimfa yang telah selesai perkembangannya panjangnya lebih kurang 7 mm, dengan antena lebih panjang. Perkembangan nimfa ada 5 instar, kecuali nimfa yang pertama semuanya mempunyai alat yang bentuknya seperti duri berdiri pada dada (thorax). Bila udara panas total periode nimfa lebih kurang 3 minggu sedang pada waktu musim yang lebih dingin sampai 6 minggu. Yang betina hidup sampai 6-10 minggu dan bertelur 30-60 butir, beberapa jenis (spesies) ada yang sampai 500 butir.

Helopeltis menyerang kina, cokelat, teh, kapas, jambu monyet, alpokat, mangga dan lain-lainnya. Tanaman yang diserang hebat akan menjadi rusak. Cara makan nimfa yang dewasa dengan menusukkan bagian mulutnya yang bentuknya seperti tabung ke dalam jaringan daun, batang, buah yang berwarna hijau yang lunak. Sebelum makan dimasukkan lebih dulu ludah yang sangat beracun pada sel-sel tanaman. Mula-mula akan kelihatan seperti ada air yang berwarna tua di sekitar tusukan yang kemudian akan berubah warna menjadi cokelat muda pada pusatnya dan hitam pada tepinya.

Pada batang yang luka akan terlihat celah yang memanjang yang akhirnya menjadi bergabus seperti terbentuk callus. Pucuk yang muda akan mati. Buah yang diserang Helopeltis sering juga diserang cendawan sehingga buah akan menjadi busuk atau mengkerut. Tanaman kapas yang diserang Helopeltis akan menjadi kerdil dan bentuk daunnya akan menjadi seperti cangkir. Tanaman muda yang diserang seperti hangus terkena api. Pada buah akan kelihatan lekuk-lekuk bulat yang berwarna hitam dengan garis tengah lebih kurang 3-4 mm, sedang kalau bagian pucuk, tangkai dan pada urat daun lukanya kelihatan memanjang. Serangan Helopeltis ini sering menyerupai serangan bakteri Xanthomonas malvacearum, sehingga orang yang belum berpengalaman akan bingung. Bedanya serangan bakteri hanya mengakibatkan lekuk-lekuk hitam tanpa jaringan callus yang bergabus.Pucuk-pucuk daun biasanya terserang jika pada tanaman cokelat itu hanya terdapat sedikit buah. Serangan berat pada pucuk daun dapat mengakibatkan kematian pucuk.

Gejala serangan berupa bercak-bercak cekung berwarna cokelat kehitaman berukuran 3-4 mm. Bercak-bercak itu diakibatkan oleh cairan ludah serangga yang dikeluarkan sewaktu menghisap cairan tanaman. Kerusakan akan menjadi lebih besar bila terjadi infeksi jamur pada bekas tusukan. Buah kakao yang terserang tampak bercak-bercak cekung berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bercak relatif kecil (2-3 mm) dan letaknya cenderung di ujung buah. Serangan pada buah muda menyebabkan buah kering dan mati, tetapi jika buah tumbuh terus, permukaan kulit buah retak dan terjadi perubahan bentuk. Bila serangan pada pucuk atau ranting menyebabkan daun layu, gugur kemudian ranting layu mengering dan meranggas

Nimfa yang baru keluar dari telur, berbulu dan belum memiliki jarum. Nimfa tersebut akan menjadi dewasa setelah 4 kali berganti kulit. Jarum ulai tampak setelah ganti kulit yang pertama. Pada habitat aslinya (alam) kehidupan Helopeltis sp. dipengaruhi oleh intensitas sinar matahari, kelembapan udara, dan angin. Tanaman inang lainnya antara lain : cokelat, teh, kina, dan lain-lain.

Cara pemberantasannya Helopeltis sp. mempunyai beberapa musuh alami (predator), antara lain : belalang sembah (Mantidae), jenis kepik predator (Reduviidae) dan beberapa jenis laba-laba.

Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15>15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh. Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa tersebut diletakkan di atas jorket dan diolesi gula.

Hama Kutu Putih (Planococus citri), tunas tanaman cokelat yang terserang hama ini pertumbuhannya tidak normal, yaitu terjadi pembengkokan, sehingga pertumbuhan tajuk tanaman tidak sempurna. Bunga dan calon buah yang terserang akan sangat terganggu pertumbuhannya. Sedangkan serangan pada buah cokelat yang telah cukup besar hampir tidak menimbulkan kerugian yang berarti. Kutu putih ini merusak penampilan buah cokelat. Kutu muda hidup dan menghisap cairan kelopak bunga, tunas, atau buah muda. Kutu dewasa mengeluarkan semacam tepung putih yang menyelimuti seluruh tubuhnya (Gambar seperti di samping).

Pada fase dewasa, kutu putih mengeluarkan sejenis cairan gula yang biasanya cairan gula tersebut akan didatangi oleh semut hitam. Pengaruh kutu putih, jelaga hitam dan semut ini membuat penampilan buah jelek; walaupun sebenarnya rasa buah tidak terlalu dipengaruhi. Pengamatan dilakukan pada tunas, kelopak bunga, dan buah mulai pembentukan tunas baru, pembungaan, dan pembentukan buah dengan melakukan pengamatan keberadaan kutu dan intensitas serangannya.

Cara hidup hama ini imago kutu putih berwarna oranye dan tubuhnya diselimuti lapisan lilin seperti kulit. Imago jantan bersayap tembus pandang, sedangkan yang betina tidak bersayap. Telur berwarna putih kekuning-kuningan yang diletakkan secara berkelompok di bawah tubuh induknya dan diselimuti oleh benang-benang halus. Larva muda berwarna kuning dan tubuhnya diselimuti lapisan lilin yang tidak begitu tebal.

Cara pemberantasan pada tanaman muda yang terserang perlu disemprot dengan insektisida, agar tajuk tanaman dapat tumbuh dengan sempurna. Jenis insektisida yang dapat digunakan insektisida berbahan aktif, antara lain : fosfamidon, karbaril.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan hama yang telah dilakuan pada pertanaman cokelat, maka di dalam praktikum kali ini mengenai identifikasi hama utama yang ada pada tanaman cokelat dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Serangan hama dan penyakit pada cokelat merupakan kendala utama dalam meningkatkan produksi cokelat. Menyempitnya keragaman genetik tanaman dan usaha peningkatan produksi yang kurang memperhatikan faktor-faktor lingkungan yang menjaga populasi hama, yaitu dengan penggunaan pestisida yang berlebihan, merupakan penyebab meledaknya populasi organisme pengganggu.

2. Hama utama yang didapatkan pada lahan pertanaman cokelat kali ini antara lain ialah, Hama Penggerek Buah Kakao (PBK), Hama Kepik penghisap buah cokelat (Helopeltis sp.), dan Hama Kutu Putih (Planococus citri),

3. Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) merupakan hama utama pada ekosistem kakao. Hama ini bersifat homodinamik dan endemik. Para ahli entomologi melaporkan bahwa PBK berasal dari spesies yang sama

4. Hama Kutu Putih (Planococus citri), tunas tanaman cokelat yang terserang hama ini pertumbuhannya tidak normal, yaitu terjadi pembengkokan, sehingga pertumbuhan tajuk tanaman tidak sempurna. Bunga dan calon buah yang terserang akan sangat terganggu pertumbuhannya.

5. Tanaman kapas yang diserang Helopeltis akan menjadi kerdil dan bentuk daunnya akan menjadi seperti cangkir. Tanaman muda yang diserang seperti hangus terkena api.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1979. Pedoman Pelaksanaan Proyek Peningkatan Produksi

Perkebunan. Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.

Riyadi, Slamet. 1989. Budidaya, Pengelolaan dan Pemasaran Cokelat.

Penebar Swadaya. Jakarta.

Siswoputranto, P, S. 1978. Perkebunan Teh, kopi, Cokelat.

PT. Gramedia. Jakarta.

Sunanto, Hatta. 2002. COKELAT Budidaya, Pengolahan Hasil dan Aspek

Ekonominya. Kanisius. Yogyakarta.