Powered By Blogger

succes men

succes men
ngasi sambutan nie

Jumat, 13 Mei 2011

hama gudang serelia dan non kacang-kacangan


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Pada dasarnya tanaman non serealia dan non kacang-kacangan merupakan tanaman tidak berbiji, bilapun berbiji tetapi sifatnya hanya biasa dipakai dalam bentuk makanan dan tidak bisa di buat lain-lain, missal pada biji kakao yang dipakai untuk pembuatan cokelat. Dalam tanaman non serealia yaitu seperti umbi-umbian, kopi, kakao.
            Ubi jalar Ipomoea batatas Lamb. Merupakan sumber karbohidrat yang dapat dipanen pada umur 3 sampai 8 bulan. Selain karbohidrat, ubijalar juga mengandung vitamin A,C dan mineral serta antosianin yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Disamping itu, ubi jalar tidak hanya digunakan sebagai bahan pangan tetapi juga sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Ubi jalar dapat diolah secara sederhana menjadi berbagai bentuk masakan, dikukus, direbus, digoreng, dipanggang, dibakar, maupun dioven merupakan cara yang umum dilakukan dalam mempersiapkan ubi jalar untuk disajikan. Selain dikonsumsi langsung ubi jalar dapat diolah menjadi produk antara dalam bentuk pati maupun tepung. Pati dibuat dengan mengekstrak umbi yang telah diparut. Sedangkan yepung diperoleh dengan cara mencuci umbi, mengupas, mengiris, menjemur dan menghancurkan (menepungkan) diayak pada ukuran 80 mesh. Pati dan tepung ubi jalar dapat digunakan untuk membuat aneka jenis kue, mie, hingga es krim.
            Tanaman kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menggembirakan karena mempunyai nilai ekonomis yang relative tinggi di pasaran dunia, di samping itu tanaman kopi ini adalah salah satu komoditas unggulan yang dikembangkan di Jawa Barat. Tanaman kopi jenis arabika sat ini mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibandingkan dengan kopi Robusta yang mana pada tahun 1990 harga kopi Arabika 1,85 U$D/Kg, sedangkan kopi Robusta 0,83 U$D/Kg.
            Jenis kopi yang mempunyai nilai ekonomis dan rasa yang relatif baik serta yang tahan terhadap hama dan penyakit. Usaha untuk merebut peluang pasar kopi antara lain dengan Pengembangan tanaman kopi Arabika melalui kegiatan peremajaan, peluasan dan rehabilitasi tanaman kopi dari kopi Robusta menjadi kopi Arabika.

1.2 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui hama pasca panen pada komoditi non serealia dan non kacang-kacangan.


BAB 2. METODELOGI

2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat
Ø  Pinset
Ø  Mikroskop
Ø  Pipet tetes
Ø  Kaca pembesar
Ø  Alat tulis menggambar
2.1.2 Bahan
Ø  Komoditi non serealia (umbi-umbian, kopi kakao,dll)
Ø  Alkohol 75%

2.2 Cara Kerja
  1. Menyiapkan bahan-bahan yang sudah terserang hama gudang.
  2. Mengambil hama yang ada pada bahan yang terserang.
  3. Hama ditaruh pada alkohol 75%.
  4. Melakukan penggambaran.
  5.  Agar kerja pengamatan pada bahan cepat dan penggambaran hamanya dengan cepat maka memergunakanlah alat bantu kaca pembesar.





BAB 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan
No
Nama:Komoditi/hama
Foto
Keterangan
1.
Araecerus fasciculatus







Morfologi:
imago berwarna cokelat tua/cokelat abu-abu dgn bercah berwarna cokelat terang,ukuran relatif besar 3-5 mm.pronotum dan elitra berwarna cokelat gelap yaitu warna di rambut.
Gejala:
Menyerang kopi setelah ada serangan hama bubuk di sekitar komoditi yang diserang.
2.
Lasioderma sericone



Morfologi:
Imago ukuran kecil, bentuknya oval, cokelat terang, agak mengkilat, elitra halus dengan rambut-rambut sangat pendek, jumlah sungut sepuluh.
Gejala:
Adanya lubang kecil dengan garis tengah sekitar 2 mm.
3.
Hypotenemus hampei


Morfologi:
Larva berwarna kuning kecoklatan serta tidak berungkai tubuh ditutupi rambut yang kaku, bentuk tubuh bulat pendek, pronotum berukuran sepertiga panjang tubuh.
Gejala :
Buah kopi yang tua nampak darin luar dlm kondisi baik, ttp bagian dlm  membubuk dan keropos.
4.
Cylas formicarius
Morfologi:
Bentuk menyerupai semut, panjangnya 6-8 mm,bentuknya langsing,kaki panjang cerah, moncong,tungkai berwarna merah.
Gejala:
Larva maupun imago merusak umbi dengan jalan masuk dalam umbi dan makan dengan membuat liang gerekan di dalam umbi.






3.2 Pembahasan
            Berdasarkan hasil praktikum yang kami lakukan tentang hama “ non serealia dan non kacang-kacanagan”. Pada bahan yang dipakai terdapat hama yang jelas semua mulai dari bahan yang berumbi dan biji kakao kopi. Dari bahan yang didapatkan hama yang banyak adalah pada umbi sedangkan pada bahan lainnya dari umbi yang mendapatkan hamanya tidak sebanyak dengan hama pada bahan umbi.
            Umbi merupakan yang banyak mengalami kerusakan dari pada bahan dari kakao dan kopi yang mempunyai kerusakan yang tidak terlalu banyak. Pada bahan umbi didapatkan hama cylas formicarius, sedangkan pada biji tembakau terdapat hama Lesioderma Sericorine, dan pada bahan komoditi lainnya adalah Araecerus fasciculatus dan Tenebroides sp.
            Kerusakan pada komoditi yang non serealia merupakan kerusakan yang ditimbulkan dengan gerekan-gerekan yang berbeda dengan kerusakan yang lain dari pada dengan kerusakan dari komoditi yang dipakai praktikum atau hama yang terdapat pada non serealia. Pada hama yang terdapat pada tembakau merupakan hama pasca panen yaitu Lasioderma serricorne. Hama ini dikenal sebagai kumbang tembakau atau bubuk tembakau dan tersebar di daerah tropis. Serangga ini merupakan hama pada beberapa komoditi penting, seperti tembakau, produk tembakau, kakao dan produk-produk makanan dan sebagai hama minor pada beberapa komoditi termasuk kacang-kacangan, buah yang dikeringkan, rempah-rempah, jahe kering, tepung sagu dan lain-lain
Hama ini dikenal sebagai kumbang tembakau atau bubuk tembakau dan tersebar di daerah tropis. Serangga ini merupakan hama pada beberapa komoditi penting, seperti tembakau, produk tembakau, kakao dan produk-produk makanan dan sebagai hama minor pada beberapa komoditi termasuk kacang-kacangan, buah yang dikeringkan, rempah-rempah, jahe kering, tepung sagu dan lain-lain.
Morfologi dan Biologi
            Imago berukuran kecil, bentuknya oval, berwarna cokelat terang dan agak mengkilat. Serangga betina berukuran 3-4 mm dan yang jantan sedikit lebih kecil. Elitra halus dengan rambut-rambut sangat pendek. Jumlah sungut 10 ruas, ruas pertama ukurannya lebih besar dari ruas-ruas yang lain dan ruas 4-10 berbentuk serrata (gergaji). Kepala terletak di bawah pronotum dan dapat digerakkan ke atas dan bawah. Perisae leher dan punggung berbulu rata, tanpa garis-garis. Tungkainya pendek dan dapat ditarik ke dalam. Apabila kumbang disentuh atau diganggu akan segera diam dan seolah-olah mati. Pad kondisi diganggu kepala dan tungkainya ditarik ke dalam perut.
            Telurnya berwarna putih, bentuknya agak bulat, pada bagian ujung terdapt bentuk seperti duri-duri tumpul. Telur berukuran panjang 0,5 mm dan lebar 0,25 mm. Larva berwarna kekuning-kuningan, pada instar pertama berbulu sangat halus agak lebat dan setelah pergantina kulit berikutnya bulu tubuhnya semakin beasr dan kaku. Tipe larva scarabaeiform, bertungkai pendek dan berambut. Panjang tubuh pada instar akhir 4-5 mm. Pupa pada awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi agak cokelat muda, dengan ukuran 2,5 – 4 mm. Pupa tersebut terbentuk dalam kokon yang berasal dari partikel-partikel bahan yang diserang dan dijalinnnya dengan benang sutra. Tipe pupa bebas (eksarata) dengan cirri khas embelan – embelan pada tubuh tidak menempel tetap bebas. Calon sayap, sungut dan kaki terlihat pada pupa tersebut.
            Telur diletakkan pada permukaan amterial segera setelah imago betina keluar dari kokon. Seekor imago betina dapat meletakkan telur sekitar 110 butir. Telur diletakkan satu persatu dan menetas setelah 6 - 10 hari, masa inkubasi telur dipengaruhi oleh suhu dan kelembapan. Pada suhu rendah masa inkubasi telur cenderung lebih lama. Larva yang baru keluar dari telur bergerak aktif dan menyukai tempat-tempat gelap, sering memakan cangkang telur dan merusak material di bagian tepi. Larva yang besar kurang aktif, merusak material dengan cara membentuk liang – liang gerek pada komoditi yang diserangnya. Larva instar empat berhenti makan dan mulai membentuk kokon sebagai tempat pupa. Pada kondisi optimal periode larva 17 – 30 hari, tapi pada suhu rendah periode larva lebih panjang. Periode pupa 3 – 10 hari, tergantung suhu lingkungannya. Imago akan tetap berada dalam kokon selama 3 - 10 hari dan selanjutnya hidup selama 2 – 6 hari. Siklus hidup kumbang tembakau 26 - 50 hari. Imago tidak memakan tembakau tapi hanya mencari tempat untuk bertelur pada tembakau tersebut. Imago aktif mulai sore hari sampai pagi hari dan tertarik pada lampu / cahaya berwarna merah. Sifat ini dapat digunakan untuk mengetahui kepadatan populasi Lasioderma serricorne.
Stegobium paniceum (Linnaeus) (Insecta: Coleoptera: Anobiidae)
Ada lebih dari 1000 spesies dijelaskan dari anobiids. Banyak penggerek kayut, Stegobium paniceum (L.) (dikenal di Inggris sebagai kumbang biskuit) dan kumbang rokok, Lasioderma serricorne (F.) (juga dikenal sebagai kumbang tembakau), serangga ini menyerang produk. Yang disimpan menyebabkan kerusakan luar biasa dan kerugian ekonomi untuk pasca-panen dan biji-bijian disimpan dan biji-bijian, produk makanan kemasan, dan hewan dan barang-barang yang diturunkan dari tanaman dan produk.
kumbang ini memiliki distribusi di seluruh dunia, tetapi lebih melimpah di daerah lebih hangat atau dalam struktur dipanaskan di daerah beriklim sedang lebih. 
Dewasa: Kumbang berdiameter 2,25-3,5 mm (1 / 10 sampai 1 / 7 inch) panjang, dan warna seragam coklat sampai coklat kemerahan. Mereka memiliki baris memanjang dari bulu-bulu halus di elytra. kumbang ini berpenampilan mirip dengan kumbang rokok, namun, dua karakter fisik yang dapat digunakan untuk membedakan antara mereka. Antena kumbang rokok bergerigi (seperti gigi pada melihat a) sementara antena kumbang apotek tidak dan berakhir tersegmentasi. Perbedaan lainnya adalah bahwa elytra (sayap meliputi) dari kumbang apotek memiliki baris lubang memberi mereka penampilan (berjajar) lurik sedangkan yang kumbang rokok yang halus.
Larva: Kecil, belatung putih, sedangkan instar seperti scarab. Mereka adalah serupa dengan rokok larva kumbang, tapi memiliki raymbut-rambut pendek dan penandaan di kepala berakhir dalam garis lurus melintasi frons tepat di atas mulut.
Perempuan yang meletakkan hingga 75 telur dalam makanan atau substrat. Periode larva berkisar dari empat sampai 20 minggu.terowongan Larva melalui substrat dan ketika dewasa membangun kepompong dan menjadi kepompong. Pupation mengambil dari 12 ke 18 hari. betina dewasa hidup sekitar 13-65 hari. Seluruh siklus hidup umumnya kurang dari dua bulan namun dapat selama tujuh bulan. Durasi siklus hidup sangat tergantung pada suhu dan sumber makanan. Pengembangan terjadi antara 60 sampai 93 ° F (~ 15 sampai 34 ° C) tetapi optimal pada sekitar 85 ° F (~ 30 ° C) dan kelembaban relatif 60 sampai 90%.
Status Hama
            Suatu komoditi akan lebih baik bila perlakuan pasca panen dengan baik maka hasil yang akan di dapat atau diperoleh akan banyak di bandingkan dengan tanpa perlakuan pasca panen. Di mana perlakuan pasca panen mempunyai arti yang penting dengan sisi hasil, apabila penyediaan hasil tidak di imbangi oleh perlakuan yang benar maka hama gudang akan mengalami kerusakan akibat oleh hama dari non serealia atau non kacang-kacangan. Komoditi non serealia merupakan penghasil komoditi yang sifatnya umbi-umbian maka dari itu kerusakan yang ditimbulkan oleh hama –hama komoditi dapat di kendalikan agar mampu menjaga hasil panen.
















BAB 4. KESIMPULAN

            Berdasarkan pada tujuan serta pembahasan maka didapatkan penarikan simpulan dimana kesimpulannya sebagai berikut :
1.  Komoditi-komoditi yang terutama non serealia maupun non kacang-kacnagan akan mengalami kerusakan yang lebih berat apabila perlakuan dari pasca panennya             secara tidak benar.
2.  Kerusakan pada komoditi yang non serealia merupakan kerusakan yang             ditimbulkan dengan gerekan-gerekan yang berbeda dengan kerusakan yang lain    dari bahan lainnya.


DAFTAR PUSTAKA

Mungnisjah, Wahju, dkk,. 1994. Panduan Praktikum Dan Pnelitian Bidang Ilmu dan Teknologi Benih . PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Semangun, Hariyono,. 2001. Ilmu hama Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Suprapto, HS. 2001. Bertanam tembakau. Penebar Swadaya. Jakarta.
Tjahjadi, Nur,.1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisus. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar